Cermin bahwa demokrasi negara ini terlihat sukses namun tidak dihati, hal ini saya liput secara pribadi terlihat pada Tim sukses salah satu pasangan capres dan cawapres beserta koalisinya yang Mengadakan kampanye terbuka, di salah satu kota/daerah di pulau kalimantan. Awal mula cerita ini saya ketahui, ketika pulang dari sekolah untuk menanyakan legalisir ijazah, tampak atribut partai dan pasangan capres dan cawapres semarak di pinggir jalan. Terdengar suatu perdebatan antara koordinator dan para masa.
"Mana uangnya, bayar dulu baru kami akan mengikuti kampanye ini!" teriak seorang ibu sebagai provokator masa. Yang lain pun mendukung dan mulai turun dari mobil bak terbuka mengikuti apa yang dikatakan provokator.
Dari keramaian tersebut, beberapa laki-laki tua membicarakan sesuatu yang kalimat ini tak sengaja ku dengar seperti ini.
Saya ikut berkampanye karena dibayar, jika nanti waktu pencontrengan pilihan saya tetap pada ***
Sungguh, begitu malang negeri ini. Demokrasi mungkin hanya dirasakan segelintir orang atau bebera orang yang memang benar-benar mendukung. Dulu, saat pemilihan caleg, tulisan serupa sempat ingin saya tulis. Namun beberapa bukti yang kurang kuat. Namun, garis besarnya bahwa salah satu caleg negeri telah membeli suara rakyat seharga Rp 25.000,00. Apa maksud semua ini?
Permainan di belakang layar demokrasi negeri ini, mungkin kah sebuah permain suap menyuap. Begitu saat dibutuhkan, rakyat di jadikan raja yang bermahkota dan mereka budak yang merenggut kekuasaan. Rakyat bukan bayi yang disuap, tapi manusia dewasa yang ingin makan sendiri dengan sendok yang di beri pemimpin. Entah, cerita dari berita televisi dan media cetak negeri ini telah membuktikan, bahwa dukungan dan demokrasi penuh kepalsuan. Seperti, salah satu caleg yang telah membangun jalan desa, namun karena kegagalannya jalan tersebut pun dibongkar. Dewasa ini, Saya bahkan beberapa teman yang belum mendapatkan hak pilih karena umur 17 tahun yang belum dicapai lebih banyak mengkritik atas kebijakan calon pemimpin kita.
Panggung debat yang diselenggarakan, kampanye bebas hanyalah tempat saling ejek para calon presiden. Apakah tidak malu terhadap rakyat? Seperti cerita gamelan dan telenovela, calon terpojokkan malah mendapat suara karena pengibaan. Bahkan sisi negatifnya, rakyat meniru pemimpinnya yang telah pecah belah karena saling ejek.
Jika, beberapa calon pemimpin protes atas suara yang ditrima nya setelah pemilu sedikit, padahal terlihat pendukung ketika kampanye ribuan. Itu karena seperti yang di jelaskan diatas, karena dukungan yang mereka beri disebabkan oleh uang. Namun, hati mereka berkata lain dan jangan bilang hal ini curang karena ke cerobohan sifat sogok pemimpin sendiri.
"Mana uangnya, bayar dulu baru kami akan mengikuti kampanye ini!" teriak seorang ibu sebagai provokator masa. Yang lain pun mendukung dan mulai turun dari mobil bak terbuka mengikuti apa yang dikatakan provokator.
Dari keramaian tersebut, beberapa laki-laki tua membicarakan sesuatu yang kalimat ini tak sengaja ku dengar seperti ini.
Sungguh, begitu malang negeri ini. Demokrasi mungkin hanya dirasakan segelintir orang atau bebera orang yang memang benar-benar mendukung. Dulu, saat pemilihan caleg, tulisan serupa sempat ingin saya tulis. Namun beberapa bukti yang kurang kuat. Namun, garis besarnya bahwa salah satu caleg negeri telah membeli suara rakyat seharga Rp 25.000,00. Apa maksud semua ini?
Permainan di belakang layar demokrasi negeri ini, mungkin kah sebuah permain suap menyuap. Begitu saat dibutuhkan, rakyat di jadikan raja yang bermahkota dan mereka budak yang merenggut kekuasaan. Rakyat bukan bayi yang disuap, tapi manusia dewasa yang ingin makan sendiri dengan sendok yang di beri pemimpin. Entah, cerita dari berita televisi dan media cetak negeri ini telah membuktikan, bahwa dukungan dan demokrasi penuh kepalsuan. Seperti, salah satu caleg yang telah membangun jalan desa, namun karena kegagalannya jalan tersebut pun dibongkar. Dewasa ini, Saya bahkan beberapa teman yang belum mendapatkan hak pilih karena umur 17 tahun yang belum dicapai lebih banyak mengkritik atas kebijakan calon pemimpin kita.
Panggung debat yang diselenggarakan, kampanye bebas hanyalah tempat saling ejek para calon presiden. Apakah tidak malu terhadap rakyat? Seperti cerita gamelan dan telenovela, calon terpojokkan malah mendapat suara karena pengibaan. Bahkan sisi negatifnya, rakyat meniru pemimpinnya yang telah pecah belah karena saling ejek.
Jika, beberapa calon pemimpin protes atas suara yang ditrima nya setelah pemilu sedikit, padahal terlihat pendukung ketika kampanye ribuan. Itu karena seperti yang di jelaskan diatas, karena dukungan yang mereka beri disebabkan oleh uang. Namun, hati mereka berkata lain dan jangan bilang hal ini curang karena ke cerobohan sifat sogok pemimpin sendiri.
By. Andrie Callista via Admin - Mahasiswa STIA Bina Banua Banjarmasin
Ket : Liputan Andrie Callista di Web Blog andriecallista.blogspot.com
